
Pengurusan atau penyelenggaraan jenazah merupakan kebutuhan setiap orang. Betapa tidak, semua orang pasti akan meninggal dunia dan orang yang sudah meninggal dunia tentu tidak dapat mengurus penyelenggaraan jenazah dirinya sendiri. Akan tetapi saat ini pengurusan jenazah atau biasa di masyarakat kita disebut fardhu kifayah kurang diminati untuk dipelajari apalagi untuk ditekuni orang sebagai praktisi.
Oleh karena itulah Masjid Kapal Munzalan Indonesia (MKMI) membentuk tim yang disebut dengan Tim Pemulia Jenazah. Tim ini dibentuk pada bulan Maret tahun 2024. Sebelum tim ini dibentuk, pada tahun yang sama ini, terlebih dahulu diadakan pelatihan pemuliaan jenazah yang dilaksanakan di MKMI, tepatnya di Munzalan Tower atau LPBM lantai 2.
Dalam acara yang dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2024 tersebut, sebagai narasumber pelatihan adalah Ust. Syarifuddin Radin, Lc, M.E.I dan Buya Yasril Umar, SE, MM. Beliau berdua ini adalah pengurus Majelis Pemulia Jenazah Indonesia (MPJI) . Pelatihan ini diikuti oleh para peserta yang berasal dari praktisi fardhu kifayah yang tergabung dalam Hamba Allah Istimewa (HAI), yang merupakan mitra dari Indonesia Mustahil Miskin (IMM). HAI ini adalah orang-orang yang terdiri dari para praktisi pelaksana fardhu kifayah, guru-guru mengaji dan penggali kubur. Selain itu ada juga peserta yang berasal dari internal MKMI, yaitu terdiri dari para santri baik ikhwan maupun akhwat.
Setelah pelatihan tersebut, peserta internal MKMI yang terdiri dari santri Ikhwan dan akhwat yang bersedia untuk mengabdi sebagai pemulia jenazah akhirnya dijadikan suatu tim yang dinamakan Tim Pemulia Jenazah MKMI. Sejak saat itu secara berkala diadakan pertemuan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi anggota tim ini.
Hari Sabtu tanggal 27 Juli 2024, kembali diadakan pertemuan Tim Pemulia Jenazah MKMI. Dalam pertemuan kali ini dimaksudkan sebagai upgrading anggota Tim Pemulia Jenazah MKMI, yaitu berupa Latihan Praktek Pemuliaan Jenazah dengan mendatangkan narasumber, Ustadz Abdu Samad, yang jika nama beliau ini disingkat maka menjadi UAS. Tentu saja UAS disini bukanlah Tuan Guru Abdul Somad yang merupakan tokoh ulama nasional yang terkenal itu. Akan tetapi Ustadz Abdu Samad ini adalah warga asli daerah sekitar Sungai Raya Dalam dan sudah lama bergelut sebagai praktisi pengurusan atau pemuliaan jenazah. Dalam kesempatan ini, beliau memberikan materi tentang memandikan dan mengkafankan jenazah.

Acara ini dimulai dengan dibuka oleh Ustadz Muhajirin selaku Kepala Bagian Badan Kesejahteraan Keluarga Pondok (BKKP) MKMI. BKKP ini adalah badan yang menaungi Tim Pemulia Jenazah MKMI. Selanjutnya acara berlangsung dengan penyampaian materi oleh Ustadz Abdu Samad. Materi ini beliau sampaikan dengan diiringi praktek yang menggunakan perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh penyelenggara yang dikoordinir oleh Kak Muhlinda. Dalam praktek ini salah seorang santri diminta untuk berperan sebagai jenazah.

Praktek mengkafankan dimulai dengan mengukur panjang jenazah dengan menggunakan tali, dimana tali tersebut dilebihkan di bagian kepala dan kaki, masing-masing sekitar 30 centimeter. Selanjutnya dengan tali tersebut sebagai acuan, maka mulai dipotong-potong kain kafan sebanyak yang diperlukan. Setelah kain kafan selesai disiapkan, maka selanjutnya dilakukan praktek memandikan jenazah. Praktek ini diselingi dengan tanya jawab oleh peserta dan narasumber.

Ada hal tak terduga ketika acara pelatihan ini berlangsung, dimana Ustadz Abdu Samad, mendapatkan berita duka melalui telpon selulernya bahwa ada warga sekitar yang meninggal dunia, inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Maka setelah selesai acara pelatihan ini Ustadz Abdu Samad mempersilahkan Tim Pemulia Jenazah untuk menyertai beliau dalam pelaksanaan pengurusan atau pemuliaan jenazah ini. Beberapa anggota bersedia untuk ikut. Dalam kesempatan ini, maka praktek dalam kondisi yang sebenarnya dialami oleh anggota tim yang ikut dan merupakan hal yang sangat berharga untuk menambah pengalaman.
Demikianlah pertemuan Tim Pemulia Jenazah MKMI pada kesempatan kali ini. Selanjutnya akan ada lagi pertemuan-pertemuan berkala, baik yang sifatnya murojaah, yaitu mengulang-ulang materi yang sudah pernah didapatkan sebelumnya, atau dapat juga berupa pengayaan materi dengan mengundang narasumber seperti kegiatan pada kali ini.
